Senin, 22 Desember 2014

Menabung Sejak Dini

Hemat dan Menabung Melatih untuk Mengenal
“Universitas Kehidupan”
              Kebanyakan orang salah dalam menyimpulkan hemat. Harus mencegah membeli ini dan itu, mengekang keinginan, dan membatasi kekuasaan. Tidak. Hemat itu sesuai kebutuhan dan kemampuan. Tidak menambah melebihkan kebutuhan di mana sebenarnya telah terpenuhi.
  “Wahai Anak cucu Adam! … Makan dan minumlah, tetapi jangan
berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebihan.”
Tidak hanya seputar makanan, minuman, ataupun uang, tetapi semua hal harus dijaga dari keborosan dan ketidaktepatgunaan.  Hidup hemat akan mengajari aktornya dalam memaknai hidup sahaja, susah sebelum bahagia, harta sebagai amanat dan ujian. Hematnya kaum cerdas bersimbiosis mutualisme antara diri sendiri dan orang lain, yaitu hemat plus menabung. Budaya ini harus mengakar dalam semangat para pelajar terutama. Dalam memperlakukan uang saku, misalnya, kita sebenarnya punya kesempatan terselubung.
              Artinya, memang ada tantangan di balik perlakuan pelajar terhadap uang sakunya. Contoh, 2012 ini warnet (warung internet) makin penuh dengan pelajar. Fatal jika berusaha menyisakan uang saku demi dunia maya, dunia tak nyata. Untuk komunikasilah manfaat internet. Bukan sebagai media curhat cinta monyet. Bermain game sekedar ada waktu saja, jangan melupakan kewajiban apalagi sampai kecanduan. Hal tersebut menjadi salah satu penggugur minat menabung. Jika benar butuh manfaatnya, gunakanlah sebaik-baiknya. Tergerakkah hati kita untuk menjadi pemenang dalam tantangan ini? Seorang pecundang menganggap tantangan sebagai alasan kegagalannya.
              Memang tidak mudah menang bersaing dengan nafsu. Apalagi sekarang kecanggihan teknologi dan medianya diperluas membuat banyak pelajar lupa siapa mereka. Handphone, PS (Play Station), hingga pakaian dan sepatu tidak mau tertinggal trend. Swalayan-swalayan megah didirikan di mana-mana menjadikan banyak orang sebagai pecundang. Kasihan para korban mode. Hidupnya hanya untuk mengejar mode yang tak ada henti-hentinya. Pamer dan segala macamnya adalah kehinaan bagi seseorang. Yang penting sopan, menutup aurat, dan hemat itulah kehormatan. Sesuai kebutuhan dan kemampuan. Dibilang miskin, tidak apa-apa. Ingin dipuji? Kita tidak bisa hidup dengan pujian dan pandangan orang lain terus-menerus. Ini termasuk tantangan memperlakukan uang saku. Bagaimana? Sanggup? Kesempatan ini hanya ditemukan oleh orang yang optimis. Coba terus coba!
              Banyak tantangan uang saku bagi kita dalam kesempatan ini. Maksud kesempatan terselubung adalah merasakan manfaat menabung uang saku.
Manfaat terbesarnya masa depan yang terbungkus kado dengan animasi mimpi kita. Menabung menciptakan mental dan nurani besar, menjadikan pribadi berbudaya positif. Hidup mandiri dengan hemat dan menabung, pandai memilah kebutuhan, sederhana berjiwa bijaksana, dan tak terhitung macamnya. Pola berpikir luas dalam menghadapi liku kehidupan dengan kompas (tak mudah tersesat), dan hadiah lain menanti di dewasa dan waktu yang akan datang. Dari usaha yang kecil namun diperjuangkan, besar akibatnya.
              Bagi pelajar cerdas, urusan uang saku bukan diterjemahkan sebagai uang jajan maupun alat bayar di dunia maya atau toko yang harus dihabiskan. Melainkan, merupakan amanat orang tua sebagai haknya.  Berangkat dari sini, dia akan mengolahnya sebagaimana kekuasaan terhadap haknya penuh. Menabungnya setiap hari dengan suka duka. Kemudian menukarnya di toko buku dengan wawasan, mengambilnya beberapa untuk kaleng infak, dan untuk menemukan keinginan lainnya tanpa membebani orang tua. Di situlah kita membalas budi orang lain. Tak sia-sia untuk hal-hal mutualisme, kan? Latihan menabung bisa menciptakan akhlak. Berkelanjutan dan muncul rasa ingin selalu menyempatkan menabung walau lima ratus rupiah saja. Hal tersebut menjadi kepribadian terpuji bagi pelajar di awal membudayakannya.
              Tidak ada yang cepat saji di bumi dalam mengawali kebaikan dan perbaikan. Sama halnya orang tua yang mulai membiasakan putra-putrinya menabung di jenjang pertumbuhan. Bahkan bagi yang terlanjur pemboros minus menabung, perbaikan butuh adaptasi dua kali lipat. Pendukungnya adalah dari kemauan untuk berubah. Terkadang iming-iming dapat membatalkan janji seseorang. Keinginan menabung sudah ada, peluang tersedia, tetapi banyak yang patah semangat tengah menghadapi tantangan yang ada di depannya. Prinsip pelajar bukan janji. Bukti bahwa kita mampu. Di mana seseorang akan membuktikannya setelah berhasil melewati ujian. Melihat teman, saudara tanpa merasa bersalah selalu menengadahkan tangan ke orang tua ingin membeli pulsa, jajan, HP, tas mahal, busana Ayu Ting Ting, misalnya. Mungkin ada sepintas godaan dan tekanan yang kita rasakan. Tetapi, dari mana lagi menabung bila bukan dari hemat uang saku dahulu? Ini adalah pembesaran mental dan nurani. Ada waktunya berduka selama menabung dan bersuka di akhir episod. Ketergantungan terhadap orang lain disebabkan tidak memiliki cadangan uang alias tabungan. Manfaat menabung, tabungan bisa berperan figuran untuk menemukan keinginan saat orang tua tidak ada. Tentu keinginan yang sesuai kebutuhan dan kemampuan.
              Globalisasi menjadi penyebab tertinggi gentingnya minat menabung, bahkan budaya hemat. Pelajar adalah generasi bangsa yang tidak boleh melupakan budaya positif hemat dan menabung. Masa depan yang bagaimana lagi selain sukses?
Jika masih saja boros, negara akan kehilangan peran generasinya untuk memajukan negara berkembang ini. Negara akan semakin miskin dan bodoh. Jika tidak ada minat menabung juga, obat apa lagi bagi negara dan masa depan kita? Jadi, mulai sekarang marilah berancang-ancang. Risiko berikutnya harus benar-benar kita perhitungkan secara tepat. Para pelajar harus dicerahkan. Mulai dari benih kecil yang disemai demi pertumbuhan dan perkembangan minat menabung pelajar Indonesia.
              Berikut usaha agar pelajar menjadi tertarik kepada kegiatan menabung.
              ○ Anak dibelikan media menabung yang unik.
              Misalnya tabungan ayam, babi, gajah, mobil-mobilan, dll. Biasanya orang tua membelikannya saat anak masih di taman kanak-kanak. Melihat tabungan yang unik, anak akan tertarik untuk mengisinya dan  merasa senang bila berhasil memenuhi tabungannya.
              ○ Anak diberi uang bulanan sebagai jatah mutlak satu bulan.
              Selain diarahkan membudayakan menabung, anak diberi jatah bulanan mencakup uang jajan, pulsa, dsb. dengan ketetapan mutlak. Upaya ini dapat dilakukan saat anak akan masuk SMP (Sekolah Menengah Pertama). Hal tersebut melatih daya nalar bagaimana cara agar jatah bulanannya cukup untuk satu bulan, bahkan lebih. Jika telah habis tengah bulan, risiko yang akan memberi pengajaran pada anak. Dua-tiga bulan kemudian, anak akan bisa mencantumkan kesimpulan sendiri untuk berusaha menabung.
              ○ Dibelikan dompet atau laci pribadi.
              Jika melihat isi dompet masih banyak anak tidak khawatir. Namun, sedih dan khawatir jika melihat isi dompetnya sedikit. Jadi, spontan akan menjaga isi dompetnya agar selalu banyak. Punya laci atau dompet bisa merasakan bagaimana ia menyimpan uang pribadi. Tetapi, hemat bukan mencegah untuk dermawan, ya.
  ○ Sekolah atau TPQ  menyediakan buku tabungan untuk acara perpisahan murid atau santriwan/ santriwati.
Hal ini diupayakan dari pertama masuk sekolah atau TPQ (Taman Pendidikan Al-Quran). Para pelajar akan berkeinginan mencapai target tertinggi di kolom tabungan. Walau sebagian dari orang tua, setidaknya ikut berusaha menabung. Hebat sekali jika setiap menabung menggunakan sisa uang saku sendiri. Bisa berlanjut seribu rupiah permasuk sekolah atau TPQ.
              Keempat usaha di atas bisa diterapkan di lingkungan keluarga maupun lembaga pendidikan. Dengan demikian, harapan pencerahan terhadap para pelajar dalam minat menabung bisa mendapat respon. Juga dengan memberi masukan mengenai hidup hemat. Masa depan akan sebesar dan seindah kerja keras kita dari sekarang. 
  Sumber: Amilatul F.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar